Senin, 15 Maret 2010

sejara pencak silat

rized > SEJARAH PERGURUAN SILAT MERPATI PUTIH

SEJARAH PERGURUAN SILAT MERPATI PUTIH

Sebelum mengenal Reiki hidup sehat dengan reiki pernah bergabung dengan Pencak Silat Tangan Kosong disingkat PPS Merpati Putih di tahun 1993 hingga 1997. PPS Merpati Putih dalam latihannya selalu mengolah nafas dengan penuh konsentrasi, tubuh seluruhnya dikejangkan, mata ditutup rapat dengan mengikuti postur gerakan mirip Yoga.

Perguruan pencak silat bela diri tangan kosong Merpati Putih atau lebih populer dengan sebutan PPS BETAKO MERPATI PUTIH, merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia, yang dikembangkan sekaligus diturunkan langsung dari Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susunan Pangeran Prabu Amangkurat Hingkang Jumeneng Ing Kartosuro.

Ilmu silat tradisional ini diwariskan turun temurun kepada generasinya , di mana pada generasi ketiga ilmu bela diri ini dikuasai oleh R.A Djojoredjoso yang sempat mendirikan padepokan sendiri. Patut diketahui beliau inilah yang telah membuat jalan Margoyoso serta sekaligus menjadi Demang di sana. Perguruan yang didirikan oleh R.A Djojorejoso dalam gerak pelaksanaannya dilakukan oleh ketiga orang putranya, yaitu Gagak Handoko, Gagak Samudra dan Gagak Seto yang dalam pengembaraannya menyebar ke pelosok Tanah Air Indonesia dan luar negeri.

Gagak Handoko mendirikan perguruan di sekitar kawasan Bagelen dan akhirnya perguruan itu hijrah hingga daerah bagian utara Pulau Jawa. Sedangkan Gagak Samudra mendirikan perguruannya di sekitar Gunung Jeruk, tepatnya di kawasan Pegunungan Menoreh. Begitu pula terhadap Gagak Seto mendirikan perguruannya di sekitar Magelang Jawa Tengah. Bila ditilik dari silsilahnya perguruan silat Merpati Putih yang berkembang saat ini adalah merupakan turunan langsung dari garis keturunan Gagak Handoko.

Patut diingat beliau sempat melakukan pengembaraan yang cukup panjang sebagai upaya untuk mencari kedua sanak saudaranya yang gencar melakukan pengembaraan di seluruh penjuru Tanah Air Indonesia. Di dalam pengembaraannya Gagak Handoko mengunakan nama samaran yaitu Ki Bagus Karto. Hal ini dimaksudkan agar tidak mudah dikenal oleh khalayak ramai. Sayang dalam mencari upaya menemukan saudaranya tidak menghasilkan titik terang dan akhirnya Sang Pendekar kembali ke padepokannya guna mengembangkan ilmu silatnya sendiri.

Mengingat faktor usia yang telah lanjut maka beliau memberi mandat kepada R.A Rekso Widjojo untuk melanjutkan tugas suci dalam mengembangkan perguruannya. Pada akhir hayatnya Sang Maha Guru Wafat yang kemudian dimakamkan di Gunung Jeruk. Di bawah kepemimpinan R.M Rekso Widjojo perguruan yang didirikan oleh Gagak Handoko mengalami kemunduruan.

Setelah menyadari keadaan tersebut, maka ia menyerahkan tongkat kepemimpinannya kepada seorang keturunannya, yakni R. Bongsodjojo yang tinggal di kawasan Ngulakan Wates. Pada hakekatnya RM. Rekso Widjojo sendiri selalu mengikuti jejak ayahnya untuk mencari kesempurnaan hidup baginya di wilayah Gunung Jeruk.

Nampaknya Perguruan Pencak Silat yang dipimpin oleh R.Bongso Djojo pun tidak berkembang pesat sehingga mengalami kemunduran sampai pada masa kepemimpinan RM Wongso Widjojo. Dalam era kepemimpinan RM Wongso Widjojo perwaris kepemimpinan dalam perguruan tidak berlanjut. Mengingat beliau tidak mempunyai keturunan maka untuk meneruskan kepemimpinan , ia menunjuk 3 orang yang masih terhitung cucunya, yaitu R.Siswopranoto, Sarengat dan Saring Siswo Hadipoernomo untuk menjadi muridnya.

Dari ketiga cucunya ini yang paling tekun dan bersungguh-sungguh mendalami ilmu bela diri ini adalah R.Saring Hadi Poernomo. Pengembangan ilmu yang diwariskan padanya ternyata cukup menggembirakan. Itu lantaran beliau sendiri yang menganggap ajaran perguruan yang diwarisinya kurang lengkap, maka ia berusaha melengkapinya dengan mencari ajaran Gagak Seto dan Gagak Samudra untuk kemudian digabungkan dengan ilmu yang telah dimilikinya.

Raden Saring ternyata berhasil melalui pengembangan yang dilakukannya yang kemudian diturunkan langsung kepada kedua anak lelakinya yaitu Poerwoto dan Budi Santoso. Kedua putranya inilah yang mendapat gemblengan keras hinggga menguasai benar ilmu ajaran ayahnya itu. Pada tahun 1982 Raden Saring mengamanahkan kepada kedua anak lelakinya untuk mengembangkan ilmu mereka untuk kepentingan masyarakat luas. Mereka diminta menyebarkan dan meluaskan ilmu yang semula milik keluarga itu.

Berkat usaha keras kedua putra pewaris ilmu keluarga itu, maka pada tahun 1983 berdirilah Perguruan Merpati Putih yang merupakan kepanjangan dari MERSUDI-PATITI-SING-TINDAK PUSAKANE TITISING HENING dengan arti harafiahnya: mencari sampai mendapat tindak yang benar dalam keheningan. Merpati putih konon memiliki semboyan yang patut diteladani oleh setiap para anggotanya, yakni SUMBANGSIHKU TAK BERHARGA, NAMUN KEIKHLASANKU NYATA.

Sumber bacaan: hasil tatap muka dengan Mas Poeng di Malam Kenaikan Tingkat 22 Januari 1994 di Cibubur Jakarta Timur dan Majalah Merpati Putih no.01/th.1/April 1991 (sudah diedit)

Merpati Putih Unibraw Malang

Merpati Putih Unibraw Malang

Kegiatan latihan PPS Merpati Putih Unibraw Malang

Kegiatan latihan PPS Merpati Putih Unibraw Malang

Categories: Uncategorized
  1. mulyono waskito
    Agustus 31, 2009 pukul 7:15 am | #1

    salam perguruan

    • andi
      Oktober 11, 2009 pukul 10:11 am | #2

      salam juga dari perguruan!

      • vtrediting
        Oktober 12, 2009 pukul 2:31 am | #3

        Salam kembali Mas Andi, kalau berkenan Mas bisa belajar Reiki untuk memantapkan keahlian silat PPS Merpati Putih. Apalagi selama kita mempraktekkan olahraga pernapasan tubuh energi kita sudah dilatih dan dipersiapkan untuk bisa menyerap energi alam semesta melalui teknik getaran. Rekan praktisi reiki yang juga praktisi tenaga dalam silat PPS Merpati Putih banyak juga menjadi praktisi reiki dan dengan ilmunya ikut berpartisipasi dalam teknik penyembuhan reiki.

  2. rina
    November 1, 2009 pukul 10:41 am | #4

    hy,,,,,,, q jg anggota MP bru q dri man 2.fto2 wktu tanding msukin dunk…………..

  3. November 30, 2009 pukul 5:42 am | #5

    Tingkatkan pencak silat MP DI SELURUH INDONESIA agar MP selalu ada di indonesia

    arif MP purworejo

    • vtrediting
      November 30, 2009 pukul 9:45 am | #6

      Memang seharusnya begitu Mas. Saya sendiri juga merasakan manfaat tatkala masih bergabung dengan Merpati Putih. Minimal tubuh energi telah terbentuk melalui olah napas Merpati Putih dan sekarang masuk menjadi Praktisi Reiki, power yang telah ada di MP kita olah dan manfaatkan untuk orang lain dan diri sendiri baik jarak dekat dan jauh. Semuanya sangat mudah dalam pelaksanaan transfer energi. Praktisi MP bila menjadi praktisi reiki sangat mudah memanage energi untuk keperluan apa dan dengan siapa energi itu ditujukan. Power energi akan meningkat dengan sendirinya asal ybs rajin praktek reiki dan olah napas MP.

  4. Desember 2, 2009 pukul 9:19 am | #7

    Mas sehat dengan reiki alumni brawijaya to? Jurusan apa ya?

    • vtrediting
      Desember 2, 2009 pukul 10:04 am | #8

      Saya bukan alumnus Brawijaya Malang Mas? saya selesai kuliah di STP Jakarta tahun 1983 (sekarang kampus ISIP) dan meneruskan kuliah lagi sambil bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Jakarta. Mengenai postingan PPS Merpati Putih saya ambil kegiatan PPS Brawijaya sedangkan saya sendiri berlatih di Kolat Jakarta Pusat Senayan.

  5. Desember 6, 2009 pukul 1:43 am | #9

    z……………………..saya aqui bahwa perguruan ni sqangat bagus d terap kan di indonesia,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  6. Februari 11, 2010 pukul 5:50 am | #10

    salam perguruan,,,,,,,,????/
    kami dari kolat MAN TELUK KUATAN,dengan pelatih Mas INDRA,.

  7. Februari 27, 2010 pukul 11:09 pm | #11

    inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun

    ikut berduka cita,

    telah berpulang:

    Ibu E. Djunariah binti Soetawijaya (83 th)

    Ibunda dari:

    Mas M.Ferry Hendarsin

    Jenazah disemayamkan di Jalan Kosambi Nomor 4

    Gudang Selatan, Bandung

    (berita diterima dari sms:085659249990 jam 02.11 WIB)

    salam perguruan

  1. Belum ada trackback.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar